9 Oct 2026
Pernikahan bukan cuma soal memilih gedung, gaun, dekorasi, atau menu makanan. Ada satu hal yang sering bikin calon pengantin cukup pusing sejak awal, yaitu menentukan pembagian biaya pernikahan.
Pertanyaannya biasanya hampir sama yaitu, biaya pernikahan sebenarnya menjadi tanggung jawab siapa? Apakah semua harus ditanggung mempelai pria? Apakah keluarga mempelai wanita yang membayar resepsi? Atau justru lebih baik dibagi bersama?
Sebenarnya, tidak ada satu aturan yang wajib diterapkan oleh semua pasangan. Pembagian biaya bisa berbeda-beda tergantung adat, kesepakatan keluarga, kondisi finansial, sampai konsep pernikahan yang kamu pilih.
Pembagian biaya pernikahan juga bisa menggunakan sistem pembagian tertentu, misalnya 50:50, 60:40, atau 70:30, selama sudah dibicarakan dan disepakati sejak awal.
Jadi, daripada sibuk memperdebatkan siapa yang harus membayar, lebih baik kamu dan pasangan mulai membicarakan pembagian biaya dengan terbuka. Nah, berikut gambaran biaya yang umumnya bisa ditanggung masing-masing pihak.
Biaya Pernikahan yang Umumnya Ditanggung Mempelai Pria
Dalam beberapa keluarga, ada kebutuhan pernikahan yang biasanya dipersiapkan oleh pihak mempelai pria, seperti mahar atau seserahan. Namun, pembagian biaya pernikahan tidak selalu sama karena bisa mengikuti tradisi keluarga, kondisi finansial, dan kesepakatan kedua pihak.
Agar lebih mudah merencanakan anggaran, berikut beberapa komponen biaya yang bisa dibicarakan bersama pasangan dan keluarga.
Mahar, Seserahan, atau Pemberian Adat
Dalam beberapa tradisi pernikahan, terdapat pemberian tertentu dari pihak mempelai pria kepada calon istri atau keluarganya. Bentuknya bisa berupa mahar, seserahan, atau pemberian adat sesuai kebiasaan yang dijalankan.
Sebagai contoh, pasangan yang mengikuti tradisi Tionghoa dapat memasukkan kebutuhan Sangjit ke dalam anggaran pernikahan. Sementara itu, pasangan dari latar belakang budaya lain bisa memiliki bentuk seserahan atau tradisi pemberian yang berbeda.
Karena itu, diskusikan bersama pasangan dan keluarga mengenai tradisi yang ingin dijalankan, kebutuhan yang perlu dipersiapkan, serta anggaran yang sesuai dengan kemampuan finansial.
Baca juga: Memilih Cincin Kawin Berkualitas Tinggi dengan Harga yang Tetap Kompetitif
Biaya Pemberkatan atau Akad
Selain kebutuhan tradisional, pasangan juga perlu memperhitungkan biaya pemberkatan atau akad yang mungkin dilanjutkan dengan syukuran sederhana bersama keluarga dan kerabat terdekat.
Anggaran ini dapat mencakup tempat pelaksanaan, konsumsi, dekorasi sederhana, serta perlengkapan acara lainnya. Apabila pemberkatan atau akad dilaksanakan di lokasi berbeda dari resepsi, perhitungkan juga kebutuhan di setiap lokasi.
Siapa yang menanggung biaya tersebut dapat dibicarakan bersama keluarga sejak awal. Dengan begitu, kamu dan pasangan memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai total anggaran sebelum menentukan pembagian biaya pernikahan.
Kebutuhan mempelai pria
Kebutuhan seperti jas atau setelan pengantin, aksesori, hingga kebutuhan pribadi lainnya juga dapat dimasukkan dalam anggaran pihak pria.
Namun, pembagian ini bukan aturan mutlak. Kalau kamu dan pasangan sepakat untuk menggabungkannya dalam satu anggaran bersama, tentu tidak masalah.
Biaya Pernikahan yang Umumnya Ditanggung Mempelai Wanita
Di beberapa adat, keluarga mempelai wanita justru memiliki porsi yang cukup besar dalam pembiayaan acara pernikahan.
Misalnya, dalam tradisi pernikahan Jawa, keluarga mempelai wanita secara tradisional dapat menanggung biaya hajatan, sementara pihak pria menyiapkan peningset sesuai kebiasaan keluarga. Namun, pembagian ini dapat berbeda berdasarkan daerah dan kesepakatan kedua keluarga.
Dekorasi dan kebutuhan acara
Kalau mengikuti sistem tradisional, dekorasi dan perlengkapan acara bisa menjadi bagian yang ditangani pihak mempelai wanita.
Namun, saat ini banyak pasangan yang memilih menggunakan wedding package sehingga biaya tersebut tidak lagi dipisahkan satu per satu.
Busana dan makeup
Gaun pengantin, makeup, hairdo atau hijab, serta kebutuhan bridal juga bisa menjadi bagian dari anggaran mempelai wanita.
Menariknya, dalam paket All-In Alissha, kebutuhan bridal tidak hanya mencakup busana pengantin wanita. Paket tertentu juga mencakup wedding gown, complete groom's suit, makeup dan hairdo/hijab untuk bride dan groom, test makeup, serta retouch.
Artinya, kamu tidak selalu harus menghitung kebutuhan pengantin pria dan wanita secara terpisah jika memilih paket yang sudah terintegrasi.
Katering dan konsumsi
Katering juga menjadi salah satu komponen terbesar dalam anggaran pernikahan. Jumlah tamu sangat berpengaruh terhadap total biaya.
Karena itu, sebelum menentukan siapa yang membayar katering, sebaiknya kamu dan pasangan menentukan dulu jumlah tamu dari masing-masing pihak.
Biaya Pernikahan yang Bisa Ditanggung Bersama
Kalau kamu dan pasangan ingin pembagian yang lebih fleksibel, sistem biaya bersama bisa menjadi pilihan yang cukup praktis.
Tidak harus selalu 50:50. Kalian bisa menentukan pembagian berdasarkan kemampuan finansial masing-masing.
Sistem Pembagian | Contoh |
50:50 | Biaya dibagi sama rata |
60:40 | Salah satu pihak menanggung 60%, pihak lainnya 40% |
70:30 | Salah satu pihak menanggung porsi lebih besar |
Berdasarkan kebutuhan | Masing-masing pihak membayar kebutuhan tertentu |
Berdasarkan tamu | Biaya disesuaikan dengan jumlah tamu masing-masing pihak |
Pembagian biaya pernikahan pada dasarnya boleh dilakukan selama sudah didiskusikan sejak awal. Bahkan pembagiannya dapat disesuaikan dengan kondisi finansial pasangan dan keluarga.
Membagi berdasarkan jumlah tamu
Cara ini cukup masuk akal kalau kedua keluarga mengundang jumlah tamu yang berbeda jauh.
Misalnya keluarga pihak pria mengundang 300 orang, sedangkan pihak wanita mengundang 200 orang. Biaya katering bisa dihitung berdasarkan jumlah tamu masing-masing.
Dengan cara ini, pembagian terasa lebih transparan dan mudah dijelaskan kepada keluarga.
Membagi berdasarkan jenis kebutuhan
Cara lainnya adalah membagi berdasarkan komponen.
Contohnya, pihak pria menangani mahar, seserahan, dan kebutuhan tertentu. Pihak wanita menangani busana atau kebutuhan keluarga. Sementara venue, katering, dekorasi, dokumentasi, dan entertainment dibayar bersama.
Tidak ada cara yang paling benar. Yang penting, semua pihak mengetahui kesepakatannya.
Baca juga: Dinamika Psikologis dalam Pengambilan Keputusan Konsep Resepsi
Bagaimana Jika Orang Tua Ikut Membiayai Pernikahan?
Mendapat bantuan dari orang tua untuk biaya pernikahan bukan sesuatu yang aneh. Dalam banyak keluarga Indonesia, orang tua memang ingin ikut berkontribusi karena sebagian tamu yang datang juga merupakan kerabat atau kolega keluarga.
Tetapi ada satu hal yang perlu kamu perhatikan.
Kalau orang tua ikut membiayai, sebaiknya sejak awal dibicarakan juga seberapa besar bantuan dan untuk kebutuhan apa.
Misalnya:
- Orang tua pihak pria memberikan dana untuk katering tamu keluarga.
- Orang tua pihak wanita membantu biaya dekorasi.
- Kedua orang tua memberikan kontribusi dalam jumlah tertentu.
- Orang tua membantu venue, sedangkan pasangan membayar kebutuhan lainnya.
Pembicaraan seperti ini justru bisa menghindari salah paham di kemudian hari.
Kalau kamu dan pasangan membiayai sebagian besar acara sendiri, kalian juga punya ruang lebih besar untuk menentukan konsep pernikahan.
Sebaliknya, ketika bantuan orang tua cukup besar, biasanya perlu ada kompromi karena mereka mungkin ingin ikut memberikan pendapat mengenai tamu, konsep, atau acara.
All-In Package untuk Mempermudah Pengelolaan Budget Pernikahan
Kalau melihat banyaknya komponen yang harus dipikirkan, tidak heran kalau calon pengantin mulai mencari cara yang lebih praktis untuk mengatur anggaran.
Salah satunya adalah menggunakan All-In Package.
Konsep All-In dari Alissha dibuat sebagai konsep One Stop Wedding. Dalam paketnya, kebutuhan dapat mencakup venue, buffet dan food stall, dekorasi standar, wedding organizer, entertainment, bridal, makeup, pre-wedding photo, wedding car, wedding cake, hingga dokumentasi foto dan video.
Jadi, kamu tidak perlu menghubungi terlalu banyak vendor secara terpisah.
Pilihan venue dan kapasitas
Alissha menyediakan pilihan venue yang tersebar di area Jakarta dan Tangerang, dengan pilihan mulai dari konsep intimate sekitar 100 pax sampai pesta besar hingga 1.200 pax.
Untuk contoh paket, salah satu pilihan yang tersedia adalah All-In Wedding Package di Hotel Whiz Prime Kelapa Gading. Paket tersebut mulai dari Rp87.500.000 net untuk 100 pax, dengan masa berlaku yang tertera sampai 31 Desember 2026.
Pilihan kapasitas lainnya dalam dokumen tersebut antara lain:
Kapasitas | Harga tercantum |
100 pax | Rp87.500.000 |
200 pax | Rp106.000.000 |
300 pax | Rp123.500.000 |
400 pax | Rp142.500.000 |
500 pax | Rp160.500.000 |
800 pax | Rp226.500.000 |
Harga tersebut merupakan contoh paket Hotel Whiz Prime Kelapa Gading dan dapat berubah sesuai ketentuan paket.
Apa saja yang sudah termasuk?
Dalam contoh paket tersebut, kebutuhan yang tersedia cukup lengkap. Mulai dari venue, buffet, minuman, dekorasi, bridal dan photo, entertainment, sampai wedding organizer.
Untuk bridal dan photo, misalnya, paket mencakup wedding gown, groom's suit, makeup dan hairdo/hijab untuk bride dan groom, test makeup, retouch, pre-wedding photoshoot, wedding cake, wedding car, serta dokumentasi foto dan video pada hari pernikahan.
Sementara untuk entertainment tersedia MC pada resepsi, singer, sound system, dan tiga instrumen musik dengan pilihan instrumen tertentu.
Wedding organizer-nya juga mencakup lima kru untuk hari pernikahan, persiapan beberapa bulan sebelum hari-H, pertemuan dengan keluarga dan vendor, technical meeting, pembuatan rundown, hingga pendampingan dari makeup bride sampai resepsi selesai.
Dengan paket seperti ini, kamu bisa lebih mudah menentukan pembagian biaya. Misalnya, paket utama dibayar bersama, sedangkan kebutuhan di luar paket dibagi berdasarkan kesepakatan.
FAQ
1. Apakah biaya pernikahan harus dibagi 50:50?
Tidak harus. Kamu dan pasangan bisa menggunakan pembagian 50:50, 60:40, 70:30, atau sistem lainnya sesuai kemampuan finansial dan kesepakatan kedua pihak.
2. Apakah orang tua boleh ikut membiayai pernikahan?
Boleh. Bantuan orang tua merupakan hal yang cukup umum. Namun, sebaiknya nominal dan penggunaannya dibicarakan sejak awal agar tidak menimbulkan salah paham.
3. Apakah All-In Package lebih mudah untuk mengatur budget?
Bisa menjadi pilihan yang praktis karena beberapa kebutuhan utama sudah digabungkan dalam satu paket. Kamu bisa mengetahui komponen yang tersedia sejak awal sehingga lebih mudah menentukan mana yang menjadi tanggungan bersama dan mana yang perlu disiapkan sebagai biaya tambahan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, pembagian biaya pernikahan bukan soal siapa yang paling banyak membayar. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kamu dan pasangan membuat kesepakatan yang terasa adil dan sesuai kemampuan.
Tradisi keluarga tetap bisa dipertimbangkan, tetapi kondisi finansial juga perlu menjadi bahan pembicaraan. Jangan sampai kamu memaksakan pembagian tertentu hanya karena mengikuti kebiasaan, sementara kondisi keuangan sebenarnya tidak memungkinkan.
Mulailah dengan menghitung total kebutuhan, menentukan jumlah tamu, memilih konsep acara, lalu membicarakan siapa yang akan menanggung setiap komponennya. Kalau ingin lebih praktis, kamu juga bisa mempertimbangkan All-In Package agar kebutuhan venue, catering, dekorasi, bridal, entertainment, WO, hingga dokumentasi lebih mudah dikelola dalam satu rangkaian.
Kalau kamu sedang menyiapkan pernikahan dan masih bingung menentukan paket maupun pembagian budget, konsultasikan kebutuhanmu melalui WhatsApp, lihat portofolio terbaru di Instagram Alissha Bride, atau cek pilihan paket pernikahan Jakarta dari Alissha Bride.